Sabtu, 15 Februari 2020

Jiayou! Bagaimana Virus Corona Menghantam Jagat Teknologi

 Jiayou! Bagaimana Virus Corona Menghantam Jagat Teknologi 


Oleh: Yuswardi Ali Suud 

"Due to the Coronavirus, no handshakes please. Thank you."

Pesan itu tertempel di pintu kaca kantor Andreessen Horowitz, sebuah perusahaan modal ventura yang membiayai pendanaan perusahan teknologi di Silicon Valley, Amerika Serikat. Pesannya jelas: meminta agar orang-oraang yang datang ke kantor itu agar tidak berjabat tangan terkait merebaknnya virus corona.

Melansir situs vox.com/recode, tak diketahui pasti sejak kapan Andreessen --investor penting untuk Facebook, Airbnb dan Slack -- menyambut pengunjung yang datang ke kantor itu dengan pesan itu. Namun pesan itu setidaknya memberi gambaran bagaimana perusahaan dalam industri teknologi mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri mereka dari virus mematikan itu.

Virus corona yang kini punya nama resmi Covid-19, hingga Sabtu (15 Februari 2020), seperti dilaporkan AFP, telah merenggut nyawa 1.532 orang (6 diantaranya petugas medis), menginfeksi 66 ribu orang (1.716 diantaranya petugas medis), dan membuat 56 juta orang dikarantina layaknya tahanan rumah. Sebagian besar korban berada di provinsi Hubei, China, tempat wabah itu bermula akhir Desember lalu.

Larangan berjabat tangan di kantor Andreessen Horowitz (Foto: Vox.com/Recode)

Meski terpisah ribuan kilometer, virus corona telah menyebarkan kekuatiran ke sekujur penjuru dunia. Pada Jumat (14 Februari 2020), kantor berita Reuters melaporkan Covid-19 telah menyebar ke 28 negara.

Di Amerika saja, hingga Kamis (13 Februari), telah ditemukan 15 kasus, termasuk mereka yang dievakuasi dari Wuhan (ibukota Provinsi Hubei), dan menjalani karantina di pangkalan angkatan udara Lackland, San Antonio, Texas. Ada pun di California Utara, termasuk Silicon Valley, terkonfirmasi empat kasus.

Di Silicon Valley, kekuatiran telah menjalar begitu cepat. Media Recode berbicara dengan beberapa karyawan di perusahaan raksasa teknologi dan mendapat jawaban bahwa umumnya karyawan senang perusahaan tempat mereka bekerja mengambil tindakan pencegahan seperti membatasi perjalanan karyawan dan menghentikan operasi di China. Selain peringatan dari perusahaan, sebagian mengamankan diri dengan menggunakan masker wajah jenis P100, seperti yang dilakukan Andre Watson, CEO startup teknologi terapi gen Ligandal.

"Meskipun kecil kemungkinan terinfeksi, tetap semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang, risiko tertular akan semakin besar karena tingkat berinteraksi dengan orang lain menjadi lebih tinggi," kata Watson.

Seorang juru bicara departemen kesehatan Distrik Santa Clara di Silicon Valley mengatakan bahwa mengurangi jabat tangan secara umum direkomendasikan untuk mencegah penyebaran pilek dan flu, tetapi tidak khusus untuk virus corona.

Perusahaan hubungan masyarakat yang mewakili Andreessen Horowitz menolak menanggapi permintaan Recode untuk berkomentar tentang larangan berjabat tangan.

Membatasi Perjalanan ke China
Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan teknologi telah mengambil tindakan cepat terkait virus corona. Google, Facebook, dan Apple telah membatasi perjalanan karyawan ke Cina. Bagi karyawan yang baru pulang dari China, dilarang masuk kantor hingga dua minggu.

Salah satu karyawan Google menemukan perusahaan meminta rekan kerja yang mengunjungi China baru-baru ini, terlepas dari wilayah mana, untuk tinggal di rumah selama lebih dari seminggu. Permintaan itu dianggap berlebihan.

"Itu seperti mengatakan Anda tidak bisa masuk jika Anda mengunjungi Chicago karena wabah flu di New York City," kata karyawan itu kepada Recode.

Stanford Graduate School of Business - bisa dibilang tempat pelatihan paling elit di dunia untuk para eksekutif teknologi pemula dan pemodal ventura - telah membatalkan program pertukaran mahasiswa dengan Universitas Tsinghua di Cina. Sekolah mengatakan program itu dibatalkan satu hari setelah dimulai; Stanford mengungkapkan kekhawatiran tentang siswanya terinfeksi di perjalanan.

Pameran Teknologi di Barcelona Dibatalkan

Terpaut ribuan kilometer dari Silicon Valley, di belahan benua Eropa sana, kota Barcelona di Spanyol turut merasakan dampak kekuatiran akibat epidemi virus corona. Sejatinya, Barcelona akan menjadi tuan rumah perhelatan Mobile World Congress (MWC) pada 24 - 27 Februari mendatang. Rencananya, perusahaan-perusahaan raksasa teknologi dari seluruh dunia akan memamerkan produk terbaru mereka di sana.

Namun, meskipun persiapan telah dilakukan, panitia akhirnya mengumumkan membatalkan acara itu pada 12 Februari lalu.

"Dengan memperhatikan lingkungan yang aman dan sehat di Barelona dan negara tuan rumah, kami memutuskan membatalkan MWC 2020 karena kekuatiran global terkait wabah virus corona, masalah perjalanan, dan kondisi lainnya, membuat acara itu tidak mungkin digelar," kata CEO GSMA John Hoffman selaku pihak penyelenggara.

Sebelum keputusan itu diambil, GSMA sebetulnya telah mencoba melakukan langkah-langkah antisipasi seperti merekomendasikan peserta untuk tidak saling berjabat tangan, hingga melarang pengunjung dari Tiongkok.

Namun, sejumlah perusahaan seperti Vivo, Intel, Sony, Amazon, Nvidia, LG Electronics, Ericcson, sudah memutuskan mundur dari acara itu, bahkan sebelum penyelenggara memutuskan membatalkannya.

Akibat pembatalan pameran itu, Barcelona dilaporkan merugi Rp7,4 triliun, merujuk pada laporan ZDnet.

Facebook Batalkan Acara, IBM Mundur dari Konferensi Keamanan Siber
Kembali ke Amerika. Tindakan membatalkan konferensi global juga dilakukan oleh Facebook dan produsen komputer IBM. Facebook seharusnya dijadwalkan menggelar Facebook Marketing Summit pada awal Maret mendatang. Acara itu, tadinya akan dihadiri 4 ribu orang, termasuk peserta dan panitia. Namun, kekuatiran menjalarnya virus corona membuat acara itu dibatalkan.

“Prioritas kami adalah kesehatan dan keselamatan tim kami, jadi karena sangat hati-hati, kami membatalkan Facebook Marketing Summit karena berkembangnya risiko kesehatan masyarakat terkait virus corona,” kata juru bicara Facebook Anthony Harrison, seperti dikutip dari CNET.

Produsen komputer IBM juga membatalkan mengirim perwakilan ke RSA Conference di San Francisco, Amerika Serikat.

RSA Conference adalah pertemuan membahas keamanan siber. Acara ini akan digelar pada 24 Februari 2020, dan dijadwalkan berlangsung sepekan. Sebelumnya, IBM adalah sponsor resmi acara ini dan selalu mengirim pembicara utama.

“Kesehatan karyawan IBM terus menjadi perhatian utama kami saat kami memantau acara mendatang dan melakukan perjalanan relatif terhadap virus Corona. Kami membatalkan partisipasi kami dalam konferensi RSA tahun ini,” tulis IBM.

Meski tanpa kehadiran IBM, penyelenggara RSA Conference mengatakan bahwa mereka masih berencana melanjutkan acara tersebut sesuai dengan jadwal. Tapi dengan catatan, mereka akan terus mengikuti bimbingan organisasi kesehatan dan pemerintah kota San Francisco.

Serangan di Dunia Maya
Tak hanya di dunia nyata, ancaman virus corona juga muncul di dunia maya dalam bentuk lain: penyebaran malware berbahaya yang dapat menginfeksi data di perangkat.

Ya, ini bukan tentang virus corona dalam artinya sebenarnya, melainkan tentang penjahat siber yang mendompleng ketenaran virus corona.

Temuan IBM X-Force dan Kapersky pada akhir Januari lalu menyebutkan, pelaku mengirim email yang melampirkan tips mencegah seseorang terinfeksi virus corona. Namun, sejatinya itu adalah jebakan. Ketika penerima email mengunduh file-nya, maka komputer atau perangkatnya akan terinfeksi oleh Trojan Emotet yang terkenal kejam.

“Sebagian besar email ditulis dalam bahasa Jepang,” kata peneliti. Subjek dari email berisi tanggal saat ini dan kata dalam bahasa Jepang yang berarti “notifikasi”.

"Email-email tersebut tampaknya dikirim oleh penyedia layanan kesejahteraan penyandang cacat di Jepang," demikian laporan IBM X-Force seperti dikutip ThreatPost yang diakses Jumat (31 Januari 2020).

"Tulisan di tubuh email secara singkat menyatakan bahwa ada laporan pasien virus korona di prefektur Gifu di Jepang dan mendesak pembaca untuk melihat dokumen terlampir."

Contoh email phishing terkait vifrus corona

Versi lain memiliki bahasa yang sama, tetapi memperingatkan laporan infeksi di berbagai prefektur Jepang, termasuk Osaka dan Tottori. Email juga memiliki catatan kaki dengan alamat surat, nomor telepon dan faksmili yang sah untuk otoritas kesehatan masyarakat yang relevan untuk prefektur yang ditargetkan—untuk memberikan kesan keaslian.

Dokumen terlampir, ketika dibuka, memunculkan pesan Office 365 yang meminta pengguna untuk "mengaktifkan konten" jika dokumen telah dibuka dalam tampilan yang dilindungi, menurut analisis IBM X-Force.

Seperti halnya sebagian besar serangan yang ditularkan melalui email Emotet, jika lampiran dibuka dengan makro yang diaktifkan, skrip makro VBA yang dikaburkan akan membuka Powershell dan menginstal pengunduh Emotet di latar belakang.

Bukan hanya Emotet yang ingin menabur infeksi di balik ancaman yang semakin meningkat. Kaspersky telah melihat beberapa kampanye spam muncul dalam beberapa minggu terakhir yang berisi berbagai lampiran bertema virus korona.

"File berbahaya yang ditemukan ditutup dengan kedok file .PDF, .MP4, .DOC tentang virus corona," kata para peneliti Kaspersky.

"Nama-nama file menyiratkan bahwa mereka berisi instruksi video tentang bagaimana melindungi diri Anda dari virus, memperbarui ancaman dan bahkan prosedur pendeteksian virus, yang sebenarnya tidak demikian,” tutur peneliti.

Faktanya, file-file tersebut berisi sekumpulan ancaman, termasuk Trojan dan Worm yang "mampu menghancurkan, memblokir, memodifikasi atau menyalin data, dan mengganggu operasi komputer atau jaringan," menurut peneliti Kaspersky. Sejauh ini, 10 dokumen berbeda telah terlihat beredar.

IBM X-Force juga memperingatkan bahwa operator Emotet mungkin akan segera memperluas penargetan mereka di luar Jepang.

“Ini mungkin akan mencakup bahasa lain juga, tergantung pada dampak wabah virus korona. Dalam sampel pertama ini, korban Jepang mungkin menjadi sasaran karena kedekatannya dengan China. Sayangnya, sangat umum bagi pelaku ancaman untuk mengeksploitasi emosi dasar manusia seperti ketakutan, terutama jika suatu peristiwa global telah menyebabkan teror dan kepanikan,” tutur IBM X-Force.

Tantangan Bagi Industri Teknologi
Besarnya dampak yang ditimbulkan oleh virus corona telah memunculkan kekuatiran akan masa depan dan keberlanjutan bisnis secara global.
Edward Minyard, konsultan senior di IP Architects, kepada Dark Reading mengatakan, faktor utama yang menjadi masalahnya bukan karena seorang pekerja, misalnya, terinfeksi corona. Melainkan, dampak yang timbul setelah itu.

Kekuatirannya adalah bahwa karyawan, kontraktor, dan penyedia layanan yang tidak teriinfeksi tetap dapat dikarantina karena secara fisik berada dekat dengan individu yang terinfeksi.

"Jika Anda memiliki 200 pekerja yanvg bekerja di satu tempat, lalu salah satu dari mereka terinfeksi, maka kemungkinan besar pemerintah akan mengkarantina semua orang," kata Minyard.

"Dari perspektif kelangsungan bisnis dan kelangsungan operasi, ini adalah hal yang nyata," katanya.

"Ini bukan sepekulasi. Ini sedang terjadi, dan kita tidak tahu seberapa buruknya. Jika Anda menempatkan semua telur dalam satu keranjang, saya akan memikirkan rencana yang berbeda,' kata Manyard.

Akankah industri teknologi memenangkan pertarungan ini, atau justru dihantam lebih keras? Jika di Wuhan ada teriakan "Jiayou Wuhan" untuk menyemangati para korban, mungkin kita juga perlu menyemangati industri teknologi dengan kata serupa: Jiayou! Ayo, tetap semangat. []

Jumat, 14 Februari 2020

Ketika OTP Berbasis SMS Tak Lagi Sakti Lindungi Uang Kita

Ketika OTP Berbasis SMS Tak Lagi Sakti Lindungi Uang Kita


Oleh: Yuswardi Ali Suud

Penipuan dengan mencuri pasword sekali pakai (OTP) berbasis SMS kian marak terjadi. Para penjahat memanfaatkan celah keamanannya. Bisa karena kelalaian pengguna yang memberikan OTP ke orang lain, kelalaian operator telekomunikasi dalam menjaga nomor telepon pelanggan, maupun menipu penyedia layanan keuangan seperti perbankan.

Terbaru adalah kasus yang menimpa wartawan senior Ilham Bintang. Rekening bank dan kartu kredit pendiri media infotainment Cek&Ricek itu berhasil dibobol penjahat siber setelah memperdaya petugas operator selular Indosat dan mengambil alih nomor telepon yang sebelumnya dipakai Ilham. Dengan menguasai nomor teleponnya, pencuri itu akan mendapat OTP dari perbankan, lalu menggunakannya untuk masuk ke akun mobile banking. Tak butuh waktu lama, uang di rekening bank pun digasak.

Dalam kasus Ilham, operator Indosat mengakui ada kelalaian petugasnya saat verifikasi data ketika seseorang yang mengaku sebagai Ilham Bintang datang ke gerai Indosat di Mal Bintaro Jaya Xchange pada 3 Januari 2020.

"Hasil investigasi, benar ada pergantian kartu mengatasnamakan Bapak Ilham Bintang," kata Turina Farouk, SV-Head Corporate Communications Indosat Oredoo di Jakarta, Senin (20 Januari 2020).

Turina mengakui ada kekurangan yang dilakukan petugas di Gerai Indosat  Bintaro Jaya Xchange saat seseorang datang ke sana dan mengaku-ngaku sebagai Ilham Bintang, dan meminta pergantian kartu SIM dengan menggunakan nomor yang sama dengan yang dipakai Ilham.

"Kami mengakui adanya kekurangan pada proses verifikasi yang dilakukan agent di lapangan," kata dia.

Turina mengatakan, pihaknya menyesalkan kejadian itu dan berjanji memperbaiki sistem untuk menjaga keamanan data konsumen.

Menyalahkan Konsumen
Dalam banyak kasus, ketika pasword OTP berpindah tangan atau dikuasai penjahat siber, para penyedia layanan menyalahkan konsumen tidak benar-benar menjaga data pribadinya. Dengan begitu, penyedia layanan (perbankan, operator seluler, dan penyedia dompet atau pembayaran digital) bisa lepas tangan.

Dalam kasus Ilham Bintang, misalnya, Direktur Bisnis Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan,"Dari peristiwa ini dapat ditarik pelajaran bahwa pemilik kartu kredit sebaiknya menjaga dengan baik seluruh informasi pribadi. Baik nomor handphone hingga nomor OTP yang menjadi dasar transaksi kartu kredit."

Ada benarnya BNI mengingatkan konsumen untuk menjaga kerahasiaan data pribadinya. Namun, ketika fakta menunjukkan OTP rentan diambil aliih orang lain, kita pun bertanya: tidak bisakah penyedia layanan mengintrospeksi diri bahwa sistem yang dipakai tak cukup kuat untuk melindugi uang konsumen?

Misalnya: sudahkah penyedia layanan seperti perbankan menyediakan fitur OTP berbasis aplikasi seperti Google Authenticator yang menurut para pakar lebih aman?

Kelalaian Perbankan
Jika dalam kasus Ilham Bintang yang diperdaya adalah operator telepon seluler, di India, justru kantor perbankannya yang ditipu.

Pada Agustus 2018, seorang warga Janakpuri di Delhi, India, kehilangan Rs 11,5 lakh yang tersimpan di rekening banknya setelah dua orang datang ke bank tempat ia menyimpan uang, dan meminta pergantian nomor telepon yang terkoneksi ke akun mobile banking.

Seperti dilaporkan indiatimes.com berdasarkan keterangan polisi, pada 31 Agustus 2018, dua orang mendatangi bank dan salah satu dari mereka menyamar sebagai pemegang rekening.

Mereka meminta perubahan nomor ponsel yang terdaftar dan mengisi formulir yang disediakan bank. Setelah nomor ponsel baru didaftarkan, mereka melakukan transfer online dari akun korban menggunakan OTP yang dikirim ke nomor telepon baru. Rs 11,5 lakh yang ditarik dengan cara ini dipindahkan ke enam rekening berbeda yang disimpan di bank di Dwarka dan kemudian ditarik melalui ATM dan cek. Setelah kejahatan itu, telepon seluler tempat OTP dikirim dimatikan.

Polisi memindai rekaman kamera CCTV di bank dan meminta karyawan bank untuk memberikan rincian akun yang digunakan dalam transaksi penipuan. Polisi melacak salah satu penjahat ke Jharkhand melalui pengawasan teknis. Polisi juga memeriksa apakah petugas bank turut bersekongkol.

Ternyata, OTP yang sebelumnya dianggap cukup sakti, kini tak mampu lagi melindungi uang kita di bank.

Eropa Ambil Langkah Cepat

Dalam kasus ini, ada baiknya kita berkaca dari Eropa. Otoritas perbankan Eropa (European Banking Authority atau EBA) telah menyatakan bahwa penerapan OTP berbasis SMS tidak sesuai standar otentikasi yang kuat (strong customer authentication atau SCA). Standar keamanan baru pun ditetapkan.
Dibuat pada 2015 dan mulai berlaku sejak 14 September 2019, peraturan baru itu merevisi soal pembayaran online di Uni Eropa dan sekaligus menerbitkan Payment Services Directive (PSD) ke-2. Walhasil, bank-bank di Eropa dipaksa untuk meninggalkan OTP berbasis SMS dan menggantikannya dengan sistem baru.

Gerakan meninggalkan OTP berbasis SMS ini sudah diperkirakan sejak lama. Maklum, teknologi OTP berbasis SMS sudah berusia 30 tahun lebih dan dianggap ketinggalan zaman serta kurang fleksibel. Nasabah sering berganti nomor telepon dan OTP bisa saja dikirimkan ke nomor lama Anda yang mungkin sudah dipegang orang lain. Masalah lainnya, teknologi ini punya kelemahan.

Selama bertahun-tahun, industri keamanan siber sudah menyerukan peringatan terhadap kelemahan OTB berbasis SMS yang tidak kunjung ditutupi.

Kelemahannya ada pada protokol SS7 yang digunakan semua jaringan mobile telephony. Hacker bisa memanfaatkan kelemahan ini untuk membajak nomor handphone bahkan tanpa diketahui oleh operator selular. Agensi keamanan siber Jerman, BSI, pada Mei 2017 telah memperingatkan bahwa hacker bisa mencegat pengiriman kode yang dikirim melalui SMS.

Sejatinya, SMS tidak pernah aman dan sebaiknya tidak digunakan secara luas, kata para pakar.

Memang two-factor authentication (2FA) direkomendasikan namun, setelah "username dan password" sebagai faktor pertama, SMS bukanlah "faktor kedua" yang bisa diandalkan. Para pakar menyarankan aplikasi otentikator atau token keamanan berbasis hardware sebagai pengganti SMS OTP. Sistem ini diyakini lebih susah dibajak oleh penjahat siber yang mengincar.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini, maaf saja, penyedia layanan perbankan terkesan lebih mudah menyalahkan konsumen daripada membenahi sistem pengamanannya.

Sudah waktunya pemerintah selaku regulator mengumpulkan para pihak terkait, mencari solusi lebih baik untuk melindungi uang kita.[]

Penulis: Yuswardi Ali Suud, Editor di Cyberthreat.id

Rabu, 12 Februari 2020

Drone Emprit: Cyberthreat.id Paling Banyak Kampanyekan RUU Perlindungan Data Pribadi



Cyberthreat.id - Analis data media sosial dan platform online, Drone Emprit, merilis hasil pemantauan tentang seberapa peduli pengguna internet terhadap Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang sudah diteken oleh Presiden Joko Widodo dan diserahkan ke DPR RI untuk dibahas sebelum disahkan menjadi Undang-undang.

Analisis dilakukan dengan memantau percakapan tentang RUU PDP di Twitter dan media online selama sebulan terakhir.

 "Kalau disimpulkan, maka topik #RUUPDP dan Perlindungan #DataPribadi memang kurang mendapat perhatian yang besar dari publik dibandingkan dengan pemberitaan di media. Meski demikian, publik punya concern yang sangat besar terhadap pencurian atau penyalahgunaan data pribadi," ungkap pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi melalui akun twitternya @ismailfahmi, Selasa (11 Februari 2020)

Dalam analisis itu, Drone Emprit juga membandingkan topik yang dibahas antara media online dan media sosial.Hasilnya, media online lebih konsen pada isu perlindungan data pribadi dan RUU PDP. Sedangkan pengguna sosial media, pembahasannya lebih kepada topik 'pencurian data', baru disusul tema 'perlindungan.

"Kebanyakan diisi oleh akun-akun media online. Sayang amplifikasi terhadap beritanya sangat kecil," kata Ismail Fahmi.

Dari sisi media, kata Fahmi situs Cyberthreat.id paling banyak menulis tentang topik RUU PDP dan data pribadi dengan 79 berita. Disusul Line Today (agregator konten dari media lain), harianaceh.co.id, cnbcindonesia.com, katadata.co.id, dan cnnindonesia.com. (lihat daftar lengkap pada tabel di atas).

Dari temuan itu, kata Fahmi, topik RUU PDP dan perlindungan data pribadi kurang mendapat perhatian dari publik dibanding pemberitaan media.

"Meski demikian, publik punya concern yang sangat besar terhadap pencurian atau penyalahgunaan data pribadi," ujarnya.

Fahmi berharap narasi kampanye perlindungan data pribadi perlu digalakkan lagi. Menurut dia, RUU PDP bisa menjawab permasalah publik soal pencurian dan penyalahgunaan data pribadi yang menjadi perhatian publik.

"Narasi kampanye untuk membangun kesadaran pentingnya perlindungan data pribadi perlu banyak dihubungkan dengan masalah pencurian data. Biar publik mendukung," kata Fahmi.[]

Sutradara Doraemon, Tsutomu Shibayama, Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun

Tsutomu Shibayama dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Doraemon, dengan kontribusi besar dalam industri animasi Jepang selama lebih dar...